Sistim injeksi commonrail
Sistim
injeksi commonrail
Common rail direct fuel injection adalah varian
sistim direct injection yang modern pada diesel engines. Tekanan injeksi yang
dihasilkan mencapai high-pressure (1000+ bar) yang didistribusikan secara
individual melalui solenoid valve, yang dikontrol oleh cams pada camshaft.
Generasi ketiga common rail saat ini menggunakan piezoelectric injectors untuk
meningkatkan akurasi injeksinya, dengan tekanan bahan bakar mencapai 180
MPa/1800 bar, diesel common rail system yang dikembangkan ini telah mencapai BME
Euro 6. Generasi ketiga Common Rail dikembangkan oleh Bosch yang menhasilkan
engine lebih clean, lebih economic, lebih bertenaga dan lebih lembut. Saat ini
common rail system telah menjadi sebuah revolusi teknologi pada diesel engine technology.
Robert Bosch GmbH, Delphi Automotive Systems, Denso Corporation dan Siemens VDO
merupakan supplier utama untuk modern common rail systems ini beberapa car
makers menyebut common rail engines dengan bebrapa nama. Hampir semua European
automakers telah mengaplikasikan common rail diesels ini untuk produk mereka
tidak terkecuali untuk commercial vehicles. Beberapa Japanese manufacturers,
seperti Isuzu, Toyota, Nissan dan kini Honda, telah pula mengembangkan common
rail diesel engines, bahkan Indian companies pula telah sukses megimplementasikan
technology ini.
1)
Gambaran umum sistim injeksi common rail
Salah satu sistim injeksi common rail yang telah
diaplikasikan pada kendaraan bermotor adalah yang digunakan oleh Mercedes Benz
(DaimlerChrysler) untuk kendaraan model 202.133/193 yang lebih popular di
Indonesia dengan Mercedes Benz C-200. Skema sistim aliran bahan bakarnya
seperti tampak pada gambar berikut :

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar 28 Skema sistim sistim aliran bahan bakar
common rail
a)
Jalur tekanan rendah
Tugas memberikan supply bahan bakar dari tangki
sampai ke pompa tekanan tinggi (19) yang telah disring, dengan jumlah dan
tekanan yang cukup pada semua kondisi kerja motor.
Fungsi ketika motor distart atau hidup, bahan bakar
mengalir ke pompa tekanan tinggi (19) melalui komponen tangki bahan bakar (80),
pemanas bahan bakar (60), saringan bahan bakar (70), pompa pengiriman bahan
bakar (primer pump) dan katup shutoff elektronik (Y75). Pembatasan tekanan
bahan bakar dibatasi oleh katup yang terdapat pada pompa pengiriman bahan bakar
(primer pump). Katup ini akan terbuka apabila tekanan pompa primer mencapai 3.5
bar, dengan cara menekan pegas katup dan kelebihan tekanan bahan bakar
dialirkan kebagian sebelah lain dalam pompa primer.
Pembocoran bahan bakar dari pompa tekanan tinggi
serta pengaliran bahan bakar olekatup pengatur tekanan dan nozzle dialirkan
melalui pipa pengembali, dari pipa pengembali tersebut kemudian dialirkan ke
pendingin bahan bakar. Hasil dari sirkulasi ini menyebabkan bahan bakar selalu
tersedia dalam kondisi yang cukup dingin untuk pompa tekanan tinggi.
b)
Jalur tekanan tinggi
Tugas menyimpan dan mengatur tekanan bahan bakar
sesuai kebutuhan penyernprotan Pompa tekanan tinggi (19) memompakan bahan bakar
kedalam rail (21) sesuai dengan putaran motor. Bahan bakar dialirkan sepanjang
pipa tekanan tinggi kemasing-masing injektor (Y76). Tekanan bahan bakar di
dalam rail diatur dengan merubah ukuran saluran pengeluaran dari rail.
Sensor tekanan rail (B4/6) mengukur jurnlah tekanan
dan kemudian besar tekanan ini dikirimkan ke kontrol unit berupa signal
tegangan. Kontrol unit CDI (N3/9) kemudian memberikan arus listrik ke katup
mengontrol tekanan (Y74) sesuai data. Komponen jalur tekanan tinggi terdiri
dari : Pornpa tekanan tinggi (19), Pipa jalur tekanan tinggi (19/1), Konektor
jalur kembali (19/16), Rail (21), Pipa jalur kembali pada nozel (51/6), Sensor tekanan
tinggi (B4/6), Aliran bahan bakar tekanan tinggi (D), Katup pengatur tekanan tinggi
(Y74), Nozel silinder No. 1, Nozel silinder No.2, Nozel silinder No.3, Nozel
silinder No.4.
2)
Komponen sistim injeksi common rail
a) Pemanas
awal bahan bakar
Digunakan untuk memastikan bahwa bahan bakar tidak
mendapat gangguan saat musim dingin atau terjadi perbedaan suhu yang sangat
ekstrim mencapai –25oC. Fungsinya memansakan bahan bakar menggunakan air
pendingin motor dan dinding blok motor.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar 29 Skema sistim aliran pemanas bahan bakar
b) Saringan
bahan bakar
Fungsinya adalah untuk menyaring kotoran-kotoran yang
terdapat pada bahan bakar dengan mengalirkan bahan bakar dari luar saringan
menuju saringan bahan bakar.
Bentuk filter bahan bakar terbuat dari elemen kertas
dengan rata-rata lubang pori-porinya
adalah 5μm. Dalam filter bahan bakar terdapat.
Saringan bahan bakar (70), Saluran masuk ke saringan bahan bakar (70/1),
Saluran keluar dari saringan bahan bakar (70/2).

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
30 Filter bahan bakar
c) Pompa
pembagi
Berfungsi untuk menghisap dan mengalirkan bahan
bakar ke pompa tekanan tinggi. Pompa pembagi bahan bakar (delivery pump )
mengisap bahan bakar dari tangki (80) melalui pemanans bahan bakar (60) dan
saringan bahan bakar (70) dan masuk kepompa kemudian terus melewati elektromagnetic
katup shutoff (Y75) terus menuju pompa tekanan tinggi (19) Tekanan bahan bakar
saat motor distater sekitar 0.5 bar. Tekanan bahan bakar saat putaran stationer
tercapai sekitar 2.5 ± 0.5 bar dan ini dicontrol oleh katup (13/12 ) yang terdapat
pada pompa pengirimnan bahan bakar (delivery pump).


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
31 Pompa pembagi bahan bakar
d) Shutoff
electric valve (katup penutup elektrik)
Berfungsi sebagai penutup dan pembuka saluran bahan
bakar pada saat digunakan. Saat katup shutoff tidak dialiri aliran listrik,
bahan bakar masuk ke pompa tegangan tinggi. Ketika selenoid armature (20/1)
dialiri oleh listrik,maka katup bola (20/4) tertutup. Bahan bakar disuplai oleh
pompa pembagi (delivery pump) melalui katup pembatas tekanan dan kembali ke
sisi isap.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
32 Shutoff electric valve
e) Pendingin
bahan bakar
Bahan bakar yang panas datang dari katup pengatur
tekanan melalui saluran masuk (14/1) terus ke pendingin bahan bakar dan masuk
keruang yang basar, panas diambil oleh permukaan Honeycomb-shaped. Bahan bakar
terus melewati saluran balik (14/2) dan kembali ketangki melalui pipa. Pada
waktu yang bersarnaan, bahan bakar yang berada di ruang pendingin dipisah dari
bahan bakar. Air pendingin menglir ke saluran masuk (14/4) melalui pendingin
bahan bakar dan keluar lagi melalui saluran balik (14/4). Sehingga tetap
menjamin tersedianya kondisi bahan bakar yang dingin pada saat melalui pompa
tekanan tinggi.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
33 Pendingin bahan bakar

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
34 Skema pendingin bahan bakar
Pendinginan lewat melalui slang dari blok motor ke
termostat ( 18/3 ) pada penurunan temperatur pendinginan (18). Dari penurunan
temperatur sekitar 80oC, termostat (18/3) membuka dan pendinginan mengalir
melalui penurunan temperatur pendinginan (18). Pendinginan diturunkan sampai
sekitar 20 OC dan kemudian mengalir keluar (18/2) ke pendinginan bahan bakar
(14), selanjutnya panas bahan bakar diredam dan terus keluar kejalur utama
pendinginan. Sebagai hasilnya temperatur bahan bakar diturunkan sekitar 40oC.
f) Pompa
tekanan tinggi
Berfungsi memberikan tekanan yang cukup tinggi pada
rail. Pompa tekanan tinggi merupakan pompa piston radial dengan tiga piston
masing-masing pengaturan sudut 120 membangun tekanan tinggi. Pompa tekanan
tinggi diputar kira-kira 1,3 kali putaran poros
nok. Saat tekanan rendah bahan bakar dialirkan oleh
pompa pembagi melalui saluran masuk bahan bakar (19 /6) ke katup throttle (19
/13) jika ada udara yang masuk bersama bahan bakar melalui pembatas (Restrictor
19/14) ke saluran pengembali (119/16). Katup throttle (19/13) membuka pada saat
tekanan sekitar 0,4 bar oleh tekanan balik pada pegas (19/12) dan bahan bakar
masuk ke saluran masuk bahan bakar (119/6) melalui sepanjang jalur ke
masing-masing piston (119/9)


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
35 Pompa tekanan tinggi
Poros pengerak (119/4) dengan poros eksentris (19/5)
mendorong piston (19/9) naik turun melawan pegas piston (19/10) pada ketiga
element pompa. Kebocoran bahan bakar dari piston (19/9) mengalir melalui
saluran pengembali (119/16) dan ke pendinginan bahan bakar terus ke tangki
bahan bakar. Bahan bakar mengalir pada katup throttle (11 9/13) seperti aliran
balik. Saluran pembatas pada katup hanya dibuat sebagai saluran ventilasi untuk
jalur tekanan rendah. Saat tekanan tinggi pengisian pada piston (19/9) didorong
kebawah oleh pegas piston (19/10). Bahan bakar dialirkan oleh pompa pembagi
kesepanjang jalur saluran pengisian (119/6), melewati plat katup (19/7) dan
pegas katup (19/8) kedalam silinder. Katup bola (19/15) mencegah saluran balik
tekanan tinggi dari penampungannya. Membangun tekanan tinggi pada pompa tekanan
tinggi dilakukan oleh Piston (19/9) saat didorong keatas oleh nok poros
eksentris (19/5) dan bahan bakar dikopresikan. Plat katup (19/7) menutup volume
aliran ke saluran pengisian bahan bakar (19/6). Jika tekanan bahan bakar naik
dialam silinder yang mana berada didalam jalur tekanan tinggi (19/3), katup
bola (19/15) mdr.Dbuka dan bahan bakar dipompakan kasaluran tekakan tinggi
(19/3).
g) Rail
Merupakan penampung bahan bakar bertekanan tinggi
yang dijhasilkan oleh pompa tekanan tingggi, yang terdapat pada saluran tekanan
tinggi, yang dihubungkan pada sisi intake manifold dengan pipa-pipa injector.
Rail digunakan sebagai penyimpanan tekanan tinggi. Katup pengatur tekanan
(Y74), sensor tekanan (134/6), pipa tekanan tinggi dan pipa saluran balik
menyatu dengannya.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
36 Rail
Rail berhubungan dengan semua nozel yang siap
memberikan bahan bakar bertekanan tinggi ke nozzle. Volume pada rail dan
pipa-pipanya sekitar 35 cm3. Dalam rail terjadi peredaman gelombang bahan bakar
dimana jumlah bahan bakar yang tersimpan sebagai peredam gelombang tekanan yang
terjadi dari hasil tekanan bahan bakar melalui pompa tekanan tinggi yang
tiba-tiba, ini terjadi selama penyemprotan bahan bakar pada nozel. Ini merubah
atomnisasi bahan bakar pada nozel di injektor dan keakuratan pengukuran jumlah
penyemprotan bahan bakar.
h) Nozzle
(injector)
Berfungsi sebagai pengabut bahan bakar, sehingga
bahan bakar mudah bercampur dengan udara dan sehingga memudahkan terjadinya
proses pembakaran. Besarnya jumlah injeksi bahan bakar tergantung dari lamanya
pengendalian selenoid, lamanyamembuka dan menutup jarum nozzle, aliran bahan
bakar pada nozzle, membukanya jarum nozlle dan tekanan rail.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
37 Konstruksi nozzle


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
38 Cara kerja nozzle
i)
Pengatur tekanan bahan bakar
Pengaturan tekanan bahan bakar digunakan untuk
menjaga agar bahan bakar yang disupply tetap memiliki tekanan yang cukup,
sehingga system bahan bakar tetap dapat mensupply bahan bakar yang dibutuhkan
oleh engine. Secara umum sistim pengatur tekanan bahan bakar dapat dilihat pada
gambar berikut :

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
39 Pengatur tekanan bahan bakar
j) Katup
pengatur tekanan bahan bakar
Katup pengontrol tekanan bahan bakar yang terletak
dibagian belakang rai merupakan komponen yang berperan mengontrol tekanan bahan
bakar pada rail dan mempertahankan tekanan pada rail yang diatur kontrol unit
motor (N3/9). Tekanan tinggi yang berada di dalam rail lebih besar dari tekanan
pengisian (16/1) katup bola duduk diposisinya pada katup pengatur tekanan
(Y74).



Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
40 Katup pengatur tekanan bahan bakar
Besarnya tekannan pada rail diatur oleh katup
pengatur tekanan (Y74) dengan membangun medan magnet (a) untuk menyesuaikan
tekanan sesuai data dengan cara pengaturan arus lisrik. Sehingga medan magnet
akan menarik katup bola menjauhi dudukannya (c). Tekanan pada rail akan
berubah-berubah sebagai hasil dari pengurangan bahan bakar saat katup bola
membuka. Jumlah arus yang diberikan dikendalikan olek kontrol unit CDI (N3/9).
Pengaturan pengembalian bahan bakar sepanjang aliran pengembalian (16/2) ke
dalam tanki bahan bakar. Saat arus listrik tidak diberikan katup pengatur tekan
(Y74) tertutup, sebab kekuatan pegas akan menekan katup bola keposisi
dudukannya (posisi semula). Saat kendaraan jalan,katup pengatur tekanan (Y74)
secara terus menerus membuka, saat kendaraan di stater, posisi katup pengatur
tekan (Y74) ditahan pada posisi menutup sebagai hasil dari tekanan pegas (b).
Saat kendaraan jalan medan magnet yang terjadi pada coil (a) akan melawan pegas
(b) sehingga menarik katup bola dan terjadi pembocoran bahan bakar.
k) Sensor
tekanan
Sensor
tekanan rail berperan untuk memberikan imfomasi tekanan rail kepada control unit
motor. Tekanan pada sistim bahan bakar yang tidak tetap merobah posisi
diaphragm seabagai hasilnya tahanan elektrik juga berobah dan perobahan ini
merupakan signal yang diberikan ke kontrol unit. Sensor tekanan rail (B4/6)
mengukur tekanan rail dan
memberikan tegangan signal akurat ke kontrol unit
(N3/9). Katup pengatur tekanan (Y74)
dikendalikan sesuai pengaturan putaran oleh kontrol
unit sampai tekanan pada rail tercapai.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
41 Sensor tekanan rail
l)
Sensor temperatur air pendingin

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
42 Sensor temperatur air pendingin
Sensor ini memiliki peran untuk mendeteksi
temperatur air pendingin dan mengirimkannya ke kontrol unit. Sensor ini
memiliki konstruksi rumah plastik dengan tahanan NTC, konektor 2 pin. Pin 1 dan
2 disambungkan ke kontrol unit. NTC maksudnya adalah Negative Temperature
Coefficient, dengan kata lain jika temperatur air pendingin naik tahanannya
menjadi turun. Konektor kabel dimasukan ke rumah sensor kemudian didalamnya
terdapat O-ring sebagai perapat. Bagian ini dilengkapi pula oleh kawat pengunci.
Tahanan NTC menyatu dengan sensor temperatur air yang merobah tahanan elektriknya
akibat perubahan temperatur air.
m) Sensor
temperatur udara masuk
Bagian ini berperan untuk meraba temperatur udara
masuk dan mengirimkan inpormasinya berupa signal ke kontrol unit. Signal yang
diterima digunakan untuk mengkakulasi masa udara. Penghitungan dilakukan untuk
mengatur jurnlah penyemprotan bahan bakar, membatasi asap, mengontrol tekanan
pada intake manifold, mengontrol EGR (exhaus gas recirculation ), dan mematikan
EGR sesuai yang di prograrnkan pada kontrol unit

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
43 Sensor temperatur udara masuk
n) Crankshaft
sensor
Putaran poros engkol dan putaran motor dideteksi berdasarkan
hubungan dengan gigi yang bolong. antara sensor poros engkol (L5) gigi
increment pada fly wheel di las menjadi satu. Ketika poros engkol berputar,
terjadi perubahan tegangan yang dibangkitkan pada sensor poros engkol (L5) oleh
gigi increment. Ketika ini telah dilakukan, permukaan gigi yang paling depan
membangkitkan pulsa tegangan positip dan pada permukaan gigi bagian lakang
membangkitkan pulsa tegangan negatif. Jarak dari positip ke negatif sama dengan
lebarnya gigi increment. Dua gap gigi yang hilang tidak membangkitkan puIsa
tegangan pada sensor poros engkol. Hal ini kemudian dianalisa oleh kontrol unit
sebagai TDC silinder no. 1

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
44 Crankshaft sensor
o) Half
effect cam shaft sensor
Pendeteksian posisi poros nok maksudnya adalah mendeteksi
segmen pada poros nok, kontrol unit (N3/9) mengetahui posisi TDC silinder dari
signal yang diberikan oleh sensor
afl poros
engkol (B6/1). Waktu penyemprotan nozel disinkronkan antara signal dari sensor
hall poros nok (B6/1) dengan signal sensor poros engkol (L5). Sensor hall poros
nok (B6/1) telah diberi signal tegangan 11 - 14 V ("high"). Jika
segment (g) Sproket gear poros nok berhadapan dengan sensor hall poros nok,
signal tegangan drop 0 V ( low). Signal 0 V ini digunakan untuk mengetahui TDC
pengapian pada silinder No. 1. Jika tidak ada signal yang diterima dari sensor
hall poros engkol ( B6/1) TDC pengapian pada silinder no.1 tergantung
penentuannya secara acak oleh kontroI unit (N3/9). Jarak antara sensor hall
poros nok dengan segmen sproket poros nok exhaust tidak dapat dirubah.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
45 Half effect cam shaft sensor
p) Pressure
sensor
Sensor ini terletak pada bagian engine compartemen
yang dihubungkan dengan slang vacuum ke saluran intake manifold (pembagi pengisian
udara). Bagian ini berperan untuk mendeteksi intake manifold dan mengirim
signalnya ke kontrol unit. Apabila tekanan pada intake manifol berubah, maka
membran akan merubah nilai tahanan pada piezo resistor yang terdapat pada
intake manifold akan berubah. Informasi ini digunakan oleh control unit sebaga
informasi awal sesuai tekanan pada intake manifold yang akan digunakan sebagai
pembatas jumlah penyemprotan saat beban penuh, EGR, menghitung jumlah masa
udara, membentuk nilai pengganti jika sensor HFM ada kesalahan atau kerusakan.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
46 Pressure sensor
q) Rpm
sensor
Sensor ini berperan untuk membangkitan TNA signal
dari signal sensor poros engkol dan dikirim semua kontrol unit yang
membutuhkannya. Gelombang kotak (square-wave signal) dengan secara terus
menerus on/off ratio, maksimum sekitar 20 mA Motor. 611 6 pulsa/ I kali putaran
motor

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
47 Rpm sensor
3)
Sistim kontrol
Sistem injeksi bahan bakar common rail memiliki
sistim yang hampir sama dengan sistim injeksi elektronis pada motor bensin yang
dikenal dengan sebutan Electronic Fuel Injection (EFI), volume penyemprotan
bahan bakar dikontrol secara elektronis, basis dari sistem ini mengalami banyak
pengembangan dan juga banyak dipakai pada berbagai merek kendaraan, baik
kendaraan keluaran Eropa, Jepang maupun Amerika. Bekerjanya injektor penyemprot
bahan bakar diatur oleh sebuah Electronic Control Unit (ECU), kadang-kadang
disebut ECM (Electronic Control Module), perangkat pengontrol elektronis ini
menerima beberapa masukan dari sensor-sensor antara lain sensor volume dan suhu
udara yang masuk ke silinder motor, suhu air pendingin, beban dan putaran motor,
posisi katup gas dan lain-lain sehingga volume penyemprotan bahan bakar bisa disesuaikan
secara tepat berdasarkan berbagai masukan/input yang diterima oleh ECU tersebut.

a) Control
Unit
ECU pada sistim injeksi common rail memiliki fungsi
sebagai control modul untuk mengontrol dan mengendalikan sistim injeksi sesuai
dengan input signal berupa Suplai bahan bakar, engontrol jumiah penyernprotan
bahan bakar, mengontrol emisi gas buang, mengontrol tekanan intake manifold,
mengedalikan cruise control ( hanya transmisi otomatis, mematikan compresor
A/C, memonitor signal input dan output, mem eri ksa pluasibelitasnya
danmenyimpan memory kesalahan, membentuk nilai penganti jika salah satu signal
hilang ( Emergency Running), mendiagnosa ( memory kesalahan yang tersimpan )

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
49 Electronic control unit (ECU)
Kontrol unit CDI ( N3/9 ) diberikan tegangan listrik
(sirkuit 87 tanpa sekring melalui sekring dan relai modul ( K40/4). Dia
mendeteksi input signal dan mengendalikan output pada semua kondisi
pengoperasian. Dalam operasinya control uni menerima masukan berupa
signal-signal baik dari sensor-sensor dan mengolahnya, kemudian memberikan perintah
kepada actuator.
b) CAN
data BUS
CAN data BUS memiliki peran untuk mengirimkan
data-data ke masing-masing kontrol
unit yang membutuhkanya, menerima signal dari sensor
untuk beberapa sistim, mengurangi jumlah kabel pada kendaraan, meningkatan daya
kerja sistim electronic. CAN data bus terdiri dari dua kabel yang digunakan
untuk mengirimkan data digital. Penguna (kontrol unit) di hubungkan dengan
kedua kabel ini. Terminal bus (tahanannya 120 ohm ) terdapat pada akhir
masing-masing kontrol unit dan dihubungkan diantara kabel. Pengukuran tahanan
(saat kunci kontak OFF) antara dua kabel 60 ohm secara parallel 120 ohm. Semua
data-data dikirimkan secara digital keseluruh jalur CAN data bus secara
bertahap. Masing-masing kotak data yang telah diterjernahkan diterima dan
dikirimkan oleh control unit sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Setiap
kontrol unit yang dihubungkan dengan CAN data bus dapat menerima data. Jumlah
kota data,tahap yang pendek antara dua tahap pengiriman dan gambaran
selanjutnya CAN data bus secara terus menerus mengeceknya. Jika ada kesalahan
yang terdeteksi maka kesalahan tersebut disimpan.

A1: Instrumen
cluster
CAN: Data bus
N3/9: E C U
N15/3: Control unit ETC
N19/1:Control unit tempmatic A/C
N22:Control unit automatic A/C
N47-1: Control unit ASR
N47-7:Control unit ETS
N73 :Control unit EIS
Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
50 Skema CAN data BUS
c) Input
signal control unit
Merupakan masukan semua data yang dibutuhkan oleh
control unit untuk menghitung kebutuhan bahan bakar yang dibutuhkan engine
sesuai kondisi dan pembebanan mesin. Beberapa masukan berasal dari
sensor-sensor yang berhubungan dengan kondisi engine baik sensor air flow
sensor (B2/5), tekanan rail (B4/6), temperatur air pendingin (B11/4), temperatur
udara masuk (B17), tekanan udara intake manifold (B28), pedal gas (B37), minyak
pelumas (B40), poros engkol (L5) dan beberapa kontrol unit seperti busi pijar (N14/2),
transmisi otomatis (N15/3), tempmatic AC (N19/1), automatic AC (N22), ASR/SPS
(N47-1), ABS (N47-7), DAS (N54-1), EIS (N73) dan switch pedal kopling (S40/3).
Masukan tersebut kemudian diolah dan dihitung oleh control unit kemudian hasilnya
akan berupa signal perintah pada masing-masing actuator untuk memerintahkan besarnya
penyemprotan bahan bakar pada injector.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
51 Skema Input signal control unit
d) Output
signal control unit
Merupakan hasil pengolahan data yang diterjemahkan
oleh control unit sebagai perintah
pada masing-masing actuator. Beberapa actuator yang
mendapatkan perintah dari control unit diantaranya injector (Y76), electric
shut off valve (Y75), pressure control valve (Y74), Booost pressure control
vacuum tranduser (Y31/5), inlet port shutoff switch over valve dan lain-lain.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
52 Skema output signal control unit
e) Quantity
control (pengatur jumlah bahan bakar)
Pengatur jumlah bahan bakar memiliki peran mengontrol
jumlah penyemprotan bahan bakar pada semua kondisi operasi kendaraan. Jumlah
pengaturan bahan bakar diambil - 46 - oleh kontrol unit motor secara selektif
pada silinder berdasarkan firing order. Kontrol unit motor menerima informasi
sesuai keadaan kerja motor yang sebenarnya diberikan oleh sensor-sensor.
Kebutuhan disesuaikan dengan jumlah penyemprotan, setiap tekanan pada rail
dapat di set melalui katup pengatur tekanan (Y74) atau pengendalian waktu di katup
selenoid pada injektor bisa diperlama atau diperpendek sesuai kebutuhannya. Pengaturan
ini diatur oleh kontrol unit CDI (N3/9)

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
53 Diagram pengaturan jumlah bahan bakar
f) Start
quantity control
Pengaturan jumlah aliran bahan bakar saat start
sesuai dengan kondisi kerja (operasi) pengaturan ini tidak tergantung pada
posisi pedal gas. Kontrol unit CDI (N3/9) mendeteksi posisi TDC pengapian
silinder No. 1 melalui sensor hall poros nok (B6/1) mengsikronkan saat
penyemprotkan bahan bakar dan juga waktu penyernprotannya. Sensor posisi poros
engkol (L5) mendeteksi putaran motor dari gigi increment, ditambah dengan
signal untuk memproses permintaan jumlah aliran bahan bakar saat start yang diberikan
oleh sensor temperatur air pendingin (B11/4) ke kontrol unit motor (N3/9), dan terus
mengendalikan nozel (Y76).

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
54 Diagram pengaturan jumlah bahan bakar saat start
Katup elektrik shutoff (Y75) tidak memberikan arus
listrik yang menghasil bahan bakar dapat dipompakan kepompa tekanan tinggi.
tekanan pada rail dibangkitkan oleh pompa tekananan tinggi yang dideteksi oleh
sensor tekananan (B4/6) pada rail dan diberikan ke kontrol unit (N3/9). Kontrol
unit (N3/9) mengatur tekanan rail melalui katup pengatur tekanan (Y74). Jumlah
aliran bahan bakar saat stater dikontrol oleh pengatur jumlah aliran bahan
bakar sampai putaran motor sampai 600 rpm, pengatur jumlah aliran bahan bakar
dimatikan. Hal ini tidak memungkinkan untuk pengendalian putaran motor dari pedal
gas sampai putaran motor melebihi 600 rpm. Jika temperatur air pendingin naik (tinggi),
jumlah aliran bahan bakar yang diberikan dikurangi oleh kontrol unit (N3/9) nozzle
(injektor Y76)
g) Pengaturan
putaran idle (idle control)
Unit ini berperan dalam mengatur putaran stationer
walaupun motor dibawah beban kerja misalnya pada saat gigi transmisi dihubung
atau tidak dihubungkan, atau kompresos A/C
berkerja. Sensor posisi poros engkol (L5) dan sensor
hall porosnok memberikan signal ke kontrol unit (N3/9).

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
55 Diagram pengaturan putaran idle
Kontrol unit ini akan mengkalkulasi/menghitung
putaran motor, pengambilan perbandingan nilai yang sebenarnya dan pengaturan
tekanan pada rail yang diatur oleh katup pengatur tekanan (Y74), dan juga lama
waktu penyemprotan bahan bakar pada injector/nozzle. Nilai, tekanan pada rail
dan lamanya waktu penyernprotan hasilnya sama dengan banyak jumlahnya bahan
bakar yang disemprotkan oleh nozzle. Signal-signal yang dibutuhkan untuk
pengaturan putaran stationer adalah: sensor temperatur air pendingin (B11/4),
sensor massa udara ( HFM sensor), control unit tempmatic A/C (TAU) - 48 - N
19/1, kontrol unit automatic A/C( AAC ) N22, sensor pedal gas B37, sensor
tekanan rail B4/6, sensor temperatur udara masuk B17.
h) Pengaturan
smooth running
Unit ini berperan dalam mengurangi ketidak rataan
putaran motor (vibration) yang terjadi saat putaran stationer. Kontrol unit
(N3/9) menerima signal putaran motor dari sensor posisi poros engkol (L5/6) dan
juga mendeteksi ketidakrataan putaran stationer pada motor. Ketidakrataan
putaran motor ini dihilangkan dengan merobah jumlah menyernprotan bahan bakar
pada silinder yang ada ganguan. Akhirnya putaran stationer menjadi konstan
kembali. Jika signal kecepatan kendaraan dikirimkan oleh kontrol unit ABS/ETS
atau ASR kekontrol unit maka smooth running tidak diaktifkan.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
56 Diagram pengaturan smooth runnning
i)
Pengontrol anti sentakan (anti
jerk)

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
57 Diagram pengaturan anti sentakan
Unit ini berperan mengurangi sentakan pada kendaraan
selama perpindahan beban atau perpindahan gigi. Fungsi. Kontrol unit (N3/9)
mendeteksi ketidakrataan puran motor; misalnya saat perpindahan gigi transmisi
yang diterima dari sensor pisisi poros engkol (L5/6). Ketidakrataan atau
sentakan ini di hilangkan semaksimal mungkin dengan cara pengaturan jumlah
penyemprotan bahan bakar pada semua silinder.
j) Pembatasan
putaran maksimum
Unit ini berperan dalam membatasi putaran motor.
Kontrol unit (N3/9) menentukan putaran motor dari informasi yang diberikan oleh
sensor posisi poros engkol (L5) dan pembatasan putaran ini yang dikendalikannya
adalah injektor ( nozzle), besarnya pembatasan putaran motor dibatasi pada rpm
4200 – 4600.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
58 Diagram pembatasan putaran maksimum
Selain itu dilengkapi pula pengaman Drive train pada
model dengan manual transmisi dengan jalan mengatur jumlah penyemprotan bahan
bakar dikurangi saat kendaraan pada posisi kerja ( operasi ) ini digunakan
untuk melindungi motor dan drive train aliran daya pada saat setelah setiap
motor distater sampai pedal kopling dilepaskan, ketika pedal kopling dilepas,
ketika pedal kopling dilepas dan kecepatan kendaraan kurang dari 10 km/jam,
fungsi pembatas kecepatan kendaraan dikendaliakn oleh kontrol unit dan putaran
motor dibatasi pada 3500 rpm.
k) Pembatasan
penyemprotan bahan bakar pada gas penuh (full throttle)
Unit ini terutama berperan untuk mengurangi jumlah asap
yang dikeluarkan pada saat kondisi kerja pada katup gas (throttle valve)
terbuka penuh. Ketika motor kondisi kerja dengan katup gas terbuka penuh,
kontrol unit (N3/9) membatasi jumlah bahan bakar yang disemprotkan melalui
sensor tekanan rail (B4/6), katup pengatur tekanan (Y74) dan - 50 - injector (
nozzle). Pengurangan jumlah asap ini dilakukan pada saat akselarasi dan ketika dikendarai
pada kecepatan yang rata. Meskipun terjadi kesalahan pada komponen dan bagian
sistim yang lain, jumlah bahan bakar yang disemprotkan pada posisi katup gas terbuka
penuh semakin di kurangi dengan bekerjasama dengan unit lain yaitu EGR, dan pengatur
tambahan tekanan pengisian.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
59 Diagram pembatasan penyemprotan bahan bakar saat gas penuh
l)
Inertia fuel shut off
Unit ini berperan dalam mengaanggu pengendalian injector
(nozzle) atau tidak ada penyernprotan. Sehingga fungsi control unit adalah
menentukan posisi katup gas dari imformasi yang diberikan oleh sensor pedal gas
(B37) dan putaran motor dari sensor posisi poros engkol (L5). Injektor (nozzle)
Y76 tidak diaktifkan saat mode Inertia fuel shutoff pada putaran motor lebih
dari 1500 rpm dan pedal gas tidak dilepas.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
60 Diagram inertia fuel shut off
m) Pengendalian
mematikan motor
Mematikan motor ketika kontok "ON"
Persyaratan untuk mematikan motor: • Tuas transmisi pada posis P atau N
Kecepatan kendaraan kurang dari 6 km/jam, Switch pedal kopling tertekan ( S40/3
) Saat kunci kontak pada kontrol unit EIS ( N73 ) diputar keposisi " STOP
", konttrol unit motor ( N3/9 Mendeteksi kehilangan tegangan pada sirkuit
15U. - 51 -
Penyemprotan nozel di non aktifkan oleh kontrol unit
CDI ( N3/9 mematikan motor darurat
( Emergency) Jika ada kesalahan yang dideteksi pada
sistim injeksi bahan bakar, motor dimatikan Melalui katup listrik shutoff (Y75
)

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
61 Diagram pengendalian mematikan motor
n) Pengajuan
penyemprotan
Bagian ini memiliki peran dalam mengurangi bunyi dan
polusi emisi gas buang. Jumlah bahan bakar yang disemprotkan yang dibutuhkan
oleh motor dibagi lagi dengan jumlah pengajuan penyernprotan dan jurnlah
penyemtrotan utama. Fungsi pengendalian stater. Stater dikendalikan dengan
pengajuan penyernprotan oleh kontrol unit berdasarkan urutan penyemprotannya,
dengan berdasarkan impormasi data yang dikalkulasi. Berdasarkan informasi adari
stater yang selanjutnya dikendalikan pada penyemprotan utama, temperatur air
pendingin, putaran motor, sistim tegangan listrik, dan waktu penyernprotan. Mematikan
pengajuan penyemprotan bahan bakar. Pengajuan penyemprotan dimatikan menurut
urutan penyernprotan jika pengajuan penyemprotan sudah melebihi waktunya, puran
motor terlalu cepat (> 4900 rpm), tidak cukupnya jumlah pengajuan penyemprotan,
tidak cukupnya jumlah penyernprotan bahan bakar utama, tiada cukupnya tekanan
bahan bakar pada rail jika kunci kontak dimatikan. Jumlah pengajuan penyemprotan
dihitung berdasarkan pada putaran motor, tekanan udara (atmosphere), temperatur
air pendingin, temperatur udara masuk, tekanan pada rail, temperatur air, temperatur
udara dan tekanan atmosphir dibutuhkan untuk mengkoreksi jumlah pengajuan
penyemprotan. Jumlah pengajuan penyernprotan dihitung dari jumlah yang disemprotkan
berdasarkan penghitungan kekurangan jumlah penyemprotan bahan bakar yang ada.
Tekanan pada rail diatur besar tekanannya supaya bahan bakar dapat disemprotkan
sampai jumlah bahan bakar seminimum mungkin. Jika jumlah penyemprotan utama
sudah tidak ada, pengajuan penyemprotan dimatikan.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
62 Diagram pengajuan penyemprotan
o) Penyemprotan
utama
Berperan sebagai pengendali waktu penyemprotan yang
di hitung oleh kontrol unit. Jumlah kebutuhan bahan bakar yang disemprotkan
pada motor dibagi lagi dengan jumlah pengajuan penyemprotan. Jika jumlah
penyemprotan utama dihitung oleh kontrol unit motor terlalu sedikit, maka tidak
ada pengajuan penyemprotan. Penyemprotan utama dibagi lagi kedalam pengendalian
stater, waktu pengendalian, pengendalian start.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
63 Diagram penyemprotan utama
- 53 -
Pengendalian start pada penyernprotan utama tergantung
pada putaran motor dan jumlah bahan bakar, kemudian hal ini ditambah lagi
dengan informasi-informasi dari temperatur air pendingin, temperatur udara masuk,
tekanan udara (atmosphere), penyernprotan pendahuluan YES / NO. Waktu pengaktipan
merupakan saat yang penting dalam penghitungan waktu pengendalian pada penyemprotan
utama adalah, apakah pengajuan penyernprotan telah dilakukan atau tidak. Mematikan
penyemprotan utama berdasarkan waktu kerja pada saat putaran motor terlalu
cepat (> 5200 rpm), tidak cukupnya jumlah penyemprotan utama, tidak cukupnya
tekanan bahan bakar pada Rail, jika motor dimatikan, pengaturan jumlah
eksternal (ASR) dan Inertia fuel mati. Penghitungan jumlah penyemprotan utarna
dihitung berdasarkan
pada putaran motor, tekanan atmosphir, temperatur air
pendingin, temperatur udara masuk, dan tekanan penambahan udara. Temperatur air
pendingin, temperatur udara dan tekanan udara (atmosphire ) dibutuhkan sebagai
koreksi untuk jumlah penyemprotan utama. Jika jumlah penyemprotan turun dibawah
minimum tergantung tekanan pada rail, tidak ada pengajuan penyemprotan yang
diberikan. Dalam kasus ini, hanya penyemprotan utama yang diambil. Jika jumlah penyernprotan
utama masih kurang dari jurnlah minimum, maka tidak ada penyemprotan utama atau
pengajuan penyemprotan penyemprotan diberikan (inertia fuel dimatikan )
p) Pengatur
penyemprotan eksternal
Berperan untuk mengurangi jumlah bahan bakar yang disemprotkan.
Jika sebuah signal dikirimkan ke kontrol unit (N3/9) oleh kontrol-kontrol unit
atau komponen-komponen sensor yang lain,
maka pengaturan jurnlah eksternal diaktifkan. Signal dapat dikirimkan
melalui CAN data BUS sepanjang jalur kabel ke
kontrol unit (N3/9). Beberapa kontrol unit
yang bekerja diantaranya kontrol unit airbag (N2/2),
kontrol unit ETC (N15), kontrol unit
ASR/SPS (N47-1), kontrol unit ABS (N47-7), switch
pedal kopling (S40/3).

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
64 Diagram penyemprotan eksternal
q) Cruise
control
Fungsi dari cruise kontrol menyatu didalam kontrol
unit motor. Ini dapat diaktifkan melalui switch cruise kontrol mulai dari
kecepatan diatas 40 km/jam. Signal dari switch cruise kontrol diterima oleh
kontrol unit EIS dan diteruskan melalui jalur CAN data bus ke control unit
motor. Kontrol unit motor menerima informasi-informasi melalui CAN data bus
untuk mengaktifkan cruise kontrol. Beberapa signal yang dibutuhkan oleh unit
ini adalah signal kecepatan kendaraan dari kontrol unit ASR/ETS, signal posisi
P/N dari kontrol unit ETC, signal dari switch lampu rem.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
65 Diagram cruise control
- 55 -
Kontrol unit motor diberikan suplai tegangan listrik
oleh relai modul dan sekring. Kontrol unit motor mengendalikan injektor Y76 dan
katup pengatur tekanan (Y74) dan dibandingkan ke posisi pedal gas. Cruise
kontrol sistim dapat dimatikan oleh switch cruise kontrol, mengoperasikan pedal
rem, memindahkan posisi tuas transmisi ke posisi " N”.
r) Compressor
AC shut off
Berperan saat mematikan compressor AC untuk
memperbaiki kinerja motor saat akselerasi dan mematikan motor. Sehingga
berfungsi sebagai kontrol unit AC (N 19) atau (N 19/1) atau outomatic heater (N
18/3) menerima signaI dari kontrol unit DFI (N3/8), dimana Compressor AC
dimatikan tergantung beban motor atau kecepatan motor. Compressor AC OFF pada
beban motor > 90% dan putaran motor < 1050 rpm. Compressor AC On pada
beban motor < 90% atau putaran motor > 2500 rpm

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
66 Diagram compressor AC shut off
s) Turbocharging
dengan intercooler
Unit ini bertugas menambah moment yang keluar dari
motor. Fungsinya adalah ketika turbocharging berkerja, energi aliran dari gas
buang (C) digunakan untuk mengerakan turbocharger (110). Turbocharger
mengalirkan udara bersih ke saluran masuk melalui pemompaan udara awal kesaluaran
keluar, kepipa penambahan udara terus keintercooler dan ke pipa pembagi
penambahan udara ke masing-masing silinder pada motor.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
67 Diagram turbocharger - intercooler
t) Pengatur
tekanan udara tambahan
Bertugas mengatur tekanan udara tambahan saat kondisi
kerja pada motor. Tekanan udara tambahan diatur oleh kontrol unit (N3/9).
Fungsinya untuk mengatur tekanan tambahan sesuai data pada kontrol unit dan
sensor tekanan. Tekanan tambahan diatur vacuum transduser (Y31/5) yang di
kendalikan oleh kontrol unit dengan arus listrik yang bervariasi dan diberikan
untuk mengatur vacuum kepada unit vacuum pengatur katup tekanan tambahan.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
68 Diagram pengatur tekanan udara tambahan
u) Vakum
tranduser pengatur tekanan tambahan udara
Bertugas mengontrol vakum ke unit vakum pengatur
tekanan tambahan udara. Vakum transduser pengatur tekanan tambahan udara (Y31/5
) dikendalikan dengan dengan arus
listrik yang bervariasi oleh kontrol unit motor. Signal
dari kontrol unit bertugas mengatur
- 57 -
vakum ke konektor (3). Jika tidak ada signal dari
kontrol unit konektor (1) dan (3) dihubungkan ke udara masuk pada unit vakum
pengatur tekanan udara tambahan.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
69 Diagram pengatur tekanan tambahan udara
v) Sistim
pengatur emisi gas buang
Bertugas menurunkan unsure-unsur Nox, HC, dan CO.
Sistim pengaturan emisi gas buang dibagi kedalam Exhaust gas recirculation(EGR),
pengatur tekanan tambahan udara, mematikan saluran masuk dan denox catalitic
converter.
Source :
DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
70

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
70 Diagram pengatur emisi gas buang
w) Exhaust
gas recilculatin (EGR)
Bertugas menurunkan unsur nitrogen oxide ( NOx).
Hydrocarbon ( HC) dan unsure-unsur bahaya lainnya. Exhaust gas recirculation
(EGR) diambil dan dikendalikan oleh control unit sesuai data-data yang telah
diprogram didalam kontrol unit itu sendiri dengan mengikuti kondisi-kondisi
yang ada diantaranya tengangan battery 11 - 14 Volt, temperatur air pendingin
60oC, putaran motor > 1000 rpm, motor telah hidup dengan putaran ± 60 detik,
beban menengah (jumlah penyernprotan).

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
71 Diagram EGR
Kontrol unit (N319) mengatur jumlah bahan bakar jika
sistim EGR bekerja pada beban menegah bersama massa udara, berdasarkan input signal
yang diberikan oleh sensor HFM (airflow sensor - B2/5 ). Banyaknya jumlah gas buang
yang disirkulasikan diatur setiap kondisi kerja motor sehingga memungkinkan
dicapai penurunan NOx yang maksimum. Flap vakum transduser pengatur tekanan / EGR
(Y31/4) dikendalikan adalah massanya oleh kontrol unit untuk mengontrol kevakuman
pada katup EGR (110 ) dan ke flap unit vakum pengatur tekanan (102). Posisi
tekanan pada katup EGR dan unit flap vakum pengatur tekanan terpenuhi sehingga,
kevakuman pada flap vakum transduser pengatur tekanan/EGR naik, katup EGR (101)
semuanya dibuka dan kemudian (sekitar setengah langkah katup EGR) katup
pengatur tekanan (103) semakin ditutup.
x) Denox
catalytic converter
Bertugas menurunkan unsur-unsur polusi pada engine
berupa carbonmonoxide (CO), hydrokarbon (HC) nitrogenoxide dan parikel-partikel
lainnya. Fungsi gas buang yang keluar dari motor melewati catalytic converter
sehingga gas buang tadi berkondensasi dengan metal platinum. Carbon monoxid
(CO) berubah menjadi karbon dioxide (C02) dan hyrocarbon (HC) menjadi
hydrocarbondioxide (C02) serta air sebagai sebagai oksidasinya. Hasil dari
proses ini juga menurunkan unsur dari partikel-partikel yang lain sebab
hydrocarban yang melekat pada carbon (jelaga) diturunkan selama terjadi oksidasi.
Di tambah unsur dari nitrogen oxside (NOx) dirubah menjadi nitrogen (N2) sebagai
hasil dari perubahan.


Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
72 Diagram Denox catalytic converter
Catalytic converter terdiri dari rumah stainless steel,
expanded meting (anyaman saringan) dan lapisan keramik monolith sesuai dengan
aturan
aturan catalytic sebenarnya. keramik monolith adalah body keramik yang terdiri
dari beberapa ribu bagian-bagian kecil. keramik dibuat magnesiumaluminium silicate yang
tahan terhadap temperatur tinggi. Monolith sangat sensitif terhadap tekanan dan
oleh karena itu ditambahkan saringan dari anyamaman jerami di dalam rumah
stainless steel. Lapisan dalam katalis yang efektif digunakan pada unsur
lapisan yang terbuat dari platinum. Platinum membuat reaksi oksidasi
hidrokarbon (HC) dan karbonmonokside (CO). Tambahan sebagai reaksi oksidasi
unsur nitrogen (Nox) berkurang. Bahan metal yang sedikit jumlahnya pada catalitic
converter, bervarasi antara 4.5 5 gram tergantung dari ukuran dan
kontruksinya.
y) Busi pijar Berfungsi memberikan pernanasan awal
pada ruang bakar sehingga tercapai temperature untuk membakar campuran bahan
bakar dan udara. Saat kunci kontak diputar keposisi 2 kontrol unit (N 14/2) dan
lampu indikator busi pijar ( A1 e 16) dikendalikan oleh control unit ( N3/9 ).
Lamanya busi pijar menyala diperhitungkan oleh kontrol unit dengan perbandingan
terhadap temperatur air. Kontrol unit busi pijar memberikan arus listrik ke busi
pijar (R9). Jika ada kerusakan komponen atau kabel pada sisitim busi pijar maka
lampu indikator busi pijar menyala dan memori kesalahannya disimpan dalam control
unit.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar
73 Diagram pengatur busi pijar
y) Pengontrol
starter
Bertugas untuk memutus motor stater (M 1) saat motor
telah mencapai putarannya. Motor stater (M1) dikendalikan oleh kontrol unit
melalui relay modul dan sekring ( K40/4 ) dan relay starter ( K40/4k2 ). Nilai
putaran motor dideteksi, untuk melindungi starter dan ring gear ini di simpan
oleh kontrol unit sebagai nilai yang sebenarnya sesuai karakteristiknya.
Kondis! saat starter ON Sistim DAS tidak diaktifkan
dan plutaran motor = 0 dan kunci
kontak pada posisi start. Kondisisaat stater OFF
kunci kontak tidak diposisi start (pengoperasian start berakhir ). atau putaran
motor telah dicapai atau putaran motor maksimum telah terlewati (untuk melindungi
motor stater ). Sekiranya starter di ulang ini butuh waktu 1.5 detik untuk menunggu
pemblokiran setelah kunci kontak dimatikan ini dilakukan untuk mencegah berputarnya
pinion motor starter dengan ring gear play wheel untuk melindungi ring gear (fly
wheel ). Tindakan keamanan diambil sekiranya ada kesalahan jika motor stater
tidak ada signal (sirkuit 50 tidak terhubung), yang disebabkan oleh kesalahan
mekanis, penyernprotan bahan bakar diaktifkan untuk mencegah motor di starter.
Kecuali dari kecepatan > 2.4 km/jam penyemprotan bahan bakar diaktifkan
walaupun tanpa start signal saat
kendaraan dihidupkan dengan didorong.

Source : DaimlerCrhrysler, 2000
Gambar 74 Diagram pengatur motor starter
3. Rangkuman
·
Teknologi diesel common rail ini bisa dibilang
sebagai teknologi terbaru yang nantinya akan menggantikan teknologi system injeksi
diesel konvensional seperti yang sekarang kita gunakan.
·
Seiring dengan meningkatnya regulasi gas
buang maka menjadikan teknologi diesel konvensional saat ini tidak memungkinkan
lagi memenuhi standar kualitas dan kuantitas gas buang untuk mesin diesel.
Dengan adanya peraturan peningkatan akurasi dan jumlah gas emisi yang dikurangi
secara signifikan, maka system common rail ini menjadi satu-satunya jawaban
untuk mengoperasikan kebutuhan mesin diesel pada masa 10-20 tahun ke depan.
·
Parameter injeksi sangatlah penting
untuk kebutuhan tenaga mesin diesel. Pada teknologi common rail ini, tekanan
injeksi menjadi sangat tinggi, kontrol injeksi pada setiap langkah pembakaran
menjadi akurat. Jumlah, timing, dan tekanan injeksi dikontrol secara terpisah.
Hal ini memungkinkan kontrol bahan bakar yang jauh lebih akurat apabila
dibandingkan dengan teknologi injeksi mesin bensin yang terbarupun.
·
Sistem common rail ini sangatlah berbeda
dengan system konvensional yang terdahulu.
·
Apabila pada teknologi sebelumnya bahan
bakar diesel dibagi-bagi dari pipa tekanan tinggi ke setiap silinder mesin,
dengan common rail bahan bakar diesel yang bertekanan tinggi dikumpulkan pada
sebuah pipa “common rail”. Kondisi ini memungkinkan untuk menghapuskan system
kontrol kebutuhan bahan bakar diesel yang sebelumnya dibagi-bagi berdasarkan
jumlah silinder mesin. Hal ini menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi efektif
dan efisien. Pompa injeksi terus-menerus memompa solar dari tangki menuju pipa
common rail, sampai tekanan common rail yang dibutuhkan tercapai.
·
Setiap injektor yang berada diatas
setiap silinder mesin kemudian akanmendistribusikan solar yang bertekanan tinggi
kepada setiap nozzle via pipa common rail. Disini, ECU akan mengontrol timing
dan jumlah pengiriman bahan bakar.
·
Teknologi Common Rail yang sudah beredar
dan terpasang di kendaraan di Indonesia pada saat tulisan ini dibuat adalah:
Isuzu D-Max, Peugeot 307, 806 dan yang paling fenomenal adalah produk dari
Toyota yaitu: Toyota Kijang Innova Diesel. Untuk produk Toyota Kijang Innova
ini menggunakan common rail tipe ECD-U2P (Denso).
·
Untuk menyiasati kondisi dan kualitas
bahan bakar solar di Indonesia sekarang ini, Toyota Kijang Innova menggunakan
filter solar yang memiliki ketahanan hingga 300.000 km. Namun untuk kondisi mesin
tidak ada modifikasi khusus dalam hal ini. Pengetesan Common Rail Sistem ini
harus menggunakan Test Bench dan Nozzle tester khusus yang bertekanan tinggi
untuk penyetelan dan servis.
·
Bukanlah hal tabu untuk memakai Diesel
pada kendaraan penumpang termasuk sedan mewah sekalipun. A8 4.2 TDI quattro
membuktikan bahwa mesin Diesel memang pantas digunakan. Walau kelas mobilnya
tidak sepadan, mesin Diesel dari yang dipakai oleh Mercedes Benz E420 CDI
sebanding dengan 4.2 TDI milik Audi. Khusus untuk mesin bensin, pertama akan
ditandai dengan semakin populernya teknologi EFI (Electronic Fuel Injection).
Sistem yang membuat proses pembakaran semakin sempurna karena volume bahan
bakar yang dibutuhkan mesin sudah diatur oleh komputer. Teknologi kedua yang
juga akan dipakai adalah sistem katup variabel VVT-I atau Variable Valve Timing
Inteligent yang menggantikan bukaan katup konstan. Sistem ketiga adalah
teknologi pencetusan api (ignition system) juga akan diperbaiki. Dari semula contact
point menjadi sistem ESA (Electronic Spark Advance) dan full transistor. Teknologi
ESA memakai arus listrik yang lebih tinggi sehingga pencetusan api bisa lebih presisi.
Keempat, sistem pengaturan udara yang masuk ruang bakar pun diperbaiki dengan teknologi
ACIS (Acoustic Control Induction System). Caranya, aliran udara lebih disempurnakan
sehingga pencampuran dengan bahan bakar menjadi lebih baik. Hasilnya proses
pembakaran semakin sempurna. Terakhir yang akan diperbaiki adalah sistem pembuangan.
Bila selama ini catalytic converter hanya ada pada mobil mewah saja, di tahun
2007 akan menjadi produk - 63 - massal. Tidak hanya itu, teknologi elektronik
akan diterapkan pada sistem p embuangan. Gas buang yang keluar akan dimonitor
nilai lambdanya oleh sensor. Hasilnya kemudian dilaporkan ke ECU (Electronic
Computer Unit) yang berkoordinasi dengan sistem lain. Hasilnya catalytic
converter dapat bekerja efektif mereduksi CO, HC, dan Nox. Sementara mesin
diesel teknologinya lebih rumit. Bila pada standar Euro-1 mekanisme pembakarannya
hanya melibatkan pompa injeksi, sirkulasi gas buang dan sistem kendali asap,
maka pada Euro-2 lebih canggih lagi. Mesin diesel akan dirancang untuk mampu mereduksi
PM (Particulate Material) dan gas Nox (Nitrogen Oksida). Proses reduksi PM dilakukan
dengan membenahi sistem injeksi dibarengi dengan pemasangan teknologi multi
valve system. Untuk mengatasi masalah Nox pabrikan akan mengembangkan teknologi
pilot injection dengan common-rail system. Yang juga turut dibenahi adalah sistem
sirkulasi gas buang dengan tambahan sistem katalis untuk menyaring Nox.
Daftar pustaka
Ø
Diesel-Comonrail1.pdf
·
Bosch, 1999, Diesel fuel-injection: An
overview, Technical Instruction, 3rd Edition, Robert Bosch GmBH, Germany.
·
Bosch, 2000, Diesel In-Line
Fuel-Injection Pumps, Technical Instruction, 3rd Edition, Robert Bosch GmBH,
Germany.
·
Bosch, 1999, Diesel Distributor
Fuel-Injection Pumps, Technical Instruction, 4rd Edition, Robert Bosch GmBH,
Germany.
·
Bosch, 1996, Governor for Diesel In-Line
Fuel-Injection Pumps, Technical Instruction, 3rd Edition, Robert Bosch GmBH,
Germany.


Comments
Post a Comment