Jenis Bahan Bakar
A. Jenis Bahan
Bakar
Jenis
bahan yang dipakai Mitsubishi Triton adalah solar, dengan menggunakan sistem
common rail.
Sistem
common rail adalah mekanisme penyaluran bahan bakar solar dari tanki ke dalam
ruang bakar secara langsung, dengan bantuan perangkat elektronik sebagai
pengontrol volume bahan bakar yang disuplai. Dengan kata lain, common rail itu
seperti sistem EFI pada mesin diesel.
Perkembangan
sistem common rail sendiri sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1960-an, saat
itu prototype dari mekanisme common rail telah diciptakan oleh Robert Hubber
dari Swiss. Namun penggunaannya pada kendaraan, pertama kali dimulai pada tahun
1990-an di Jepang. Saat itu skema common rail dipakai pada mesin diesel alat
berat.
Namun
di era sekarang, mekanisme common rail sudah semakin disempurnakan oleh
masing-masing insinyur developer kendaraan. Sehingga, mesin diesel common rail
bisa diaplikasikan pada mobil MPV sekalipun.
B. Nama
Komponen dan Fungsi

1.
Tangki
bahan bakar.
Baik sistem bahan
bakar konvensional maupun elektronik, komponen bahan bakar berupa tanki wajib
hadir. Hal ini dikarenakan fungsi dari komponen ini adalah sebagai penyimpan
cadangan solar yang akan di masukan ke dalam mesin saat proses pembakaran.
2.
Electric
fuel pump
Pompa bahan bakar
elektrik adalah sebuah komponen yang berfungsi memompa atau menyuplai solar
dari tanki ke pompa tekanan tinggi pada mesin.
Baik diesel
konvensional atau common rail sama-sama memiliki komponen ini, tapi pada tipe
modern fuel pump sudah bersifat elektrik dan posisinya ditenggelamkan kedalam
tanki. Dengan kata lain, pompa bekerja menggunakan motor listrik dimana seluruh
fuel pump akan tenggelam oleh solar didalam tanki. Sehingga kalau anda mencari
dimana letak pompanya, anda harus membuka bagian tanki. Didalam satu set
electric fuel pump ini, juga terdapat saringan kasar dan fuel lever gauge.
·
saringan
kasar berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar dari solar.
·
fuel
lever gauge berfungsi untuk mendeteksi volume solar didalam tanki
3.
Filter
Solar
Filter solar ini
terletak pada fuel line setelah keluar dari fuel pump sebelum masuk ke dalam
pompa tekanan tinggi. Fungsinya untuk menyaring partikel kotoran yang terbawa
oleh aliran solar dan mengendapkan air yang terbawa pada aliran solar.
Fuel filter pada
mesin diesel common rail bersifat lebih halus, karena sistem ini lebih sensitif
terhadap kotoran yang terbawa pada aliran solar. Kotoran ini berpotensi
menggagalkan proses pembakaran karena merusak injector.
4.
Pompa
tekanan tinggi
Fungsi suplay pump
Supply pump akan
bertugas untuk membangkitkan tekanan bahan bakar solar dari tanki hingga
sekitar 160 MPa. Pompa ini bekerja secara mekanis mirip seperti sistem bahan
bakar konvensional. Namun pompa ini memiliki konstruksi lebih simple. Umumnya
pompa ini terletak pada kepala silinder mesin dan terhubung dengan camshaft
sebagai penggerak pompa.
Pompa ini juga
tidak mempedulikan timing seperti pada diesel konvensional, karena pompa ini
hanyalah membangkitkan tekanan bahan bakar. Untuk masalah timing, diatur oleh
solenoid pada injector.
5.
Fuel
rail
Fuel rail terletak
setelah pompa tekanan tinggi. Fungsi fuel rail adalah untuk mempertahankan
bahan bakar dalam tekanan tinggi setelah dibangkitkan oleh pompa tekanan
tinggi.
6.
Injector
Injector adalah
komponen utama sistem bahan bakar diesel yang fungsinya untuk mengeluarkan
solar dari sistem bahan bakar ke dalam mesin dalam bentuk kabutan. Pada sistem
common rail, injector sudah di desain khusus hingga memiliki rangkaian solenoid
yang akan bekerja saat ada arus listrik yang mengalirinya.
Saat solenoid
bekerja, maka noozle akan terbuka sehingga bahan bakar bertekanan dari fuel
rail akan keluar dalam bentuk kabutan.
B. Komponen
kontrol
Bagian kedua dari
rangkaian komponen sistem common rail adalah dari sisi kontrol elektrikal.
Beberapa komponen yang termasuk dalam rangkaian sistem electric control adalah
;
1.
Sensor
Sensor adalah
komponen elektronika yang berfungsi mendeteksi suatu kondisi pada mesin atau
obyek lainya sebagai acuan untuk menghitung nilai aktuator. Mudahnya, sensor
pada mesin diesel common rail berfungsi mendeteksi beberapa kondisi untuk
menentukan timing dan volume solar yang akan di injeksikan. Sensor yang
termasuk pada sistem common rail antara lain ;
a.
MAF
& IAT. Sensor ini terletak pada area filter udara. Fungsinya untuk
mendeteksi suhu dan massa udara intake.
b.
MAP
Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi kevakuman pada intake manifold.
c.
CKP
& CMP Sensor. Sensor ini akan mendeteksi kecepatan mesin untuk menentukan
timing dan RPM mesin.
d.
Knock
Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi engine knocking pada mesin.
e.
Fuel
rail pressure sensor. Sensor ini terletak di ujung fuel rail. Fungsinya untuk
mendeteksi tekanan fuel rail.
f.
ECT
Sensor. Sensor yang berfungsi mendeteksi suhu mesin melalui air pendingin.
g.
App
Sensor. Sensor yang terletak pada pedal gas untuk mendeteksi berapa dalam pedal
gas diinjak oleh pengguna.
2.
ECM
ECM adalah
kependekan dari Engine Control module. Beberapa menyebutnya ECU (Electronic
Control Unit). Fungsinya sebagai processor utama pada mesin untuk melakukan
berbagai perhitungan khususnya menghitung jumlah bahan bakar yang diinjeksikan
ke dalam mesin sesuai data sensor yang masuk.
3.
Solenoid
actuator
Soleniod aktuator
adalah perangkat yang berfungsi untuk menggerakan noozle didalam injektor.
Bentuk dari solunoid ini berupa coil yang memiliki kemagnetan saat dialiri arus
listrik. Kemagnetan tersebut dimanfaatkan untuk membuka noozle sehingga
terbentuk celah pada ujung injektor sebagai tempat keluarnya solar.
Jadi, solenoid ini
terletak didalam injektor yang dikendalikan oleh ECM.
C. Cara
Kerja Sistem Common Rail
Sistem
common rail itu merupakan sistem EFInya mesin diesel. Artinya sistem ini
berperan pada sektor suplai bahan bakar. Dimana pada skema konvensional, solar
dari tanki akan disalurkan ke pompa tekanan tinggi.
Pompa tekanan
tinggi ini tidak hanya sekedar menaikan tekanan solar. Pompa ini akan menaikan
tekanan solar secara spontan dan pada timming tertentu. Bisa dikatakan, untuk
mesin diesel konvensional 4 silinder maka ada 4 chanel pada pompa yang
masing-masing akan bekerja secara bergantian sesuai timmingnya.
Sistem common rail
tetap memiliki pompa tekanan tinggi, namun fungsi pompa ini disederhanakan
hanya untuk menaikan solar secara konstan. Artinya tidak seperti pompa tipe
konvensional yang hanya akan menaikan tekanan solar saat mencapai timming,
melainkan pompa common rail ini akan terus menekan solar untuk menjaga tekanan
solar tetap tinggi (stabil).
Dan yang berbeda lagi,
ada pada bagian injektor. Injektor pada sistem common rail dibuat normaly
closem, artinya dalam kondisi off injektor akan tertutup rapat tanpa celah
sedikitpun. Ketika timming pengapian tercapai, maka solenoid akan membuka nozle
sehingga akan ada celah pada ujung injektor.
Hasilnya, solar
yang sebelumnya sudah dalam kondisi full pressure otomatis keluar dengan
kondisi terkabut karena lubang pada nozle yang dibuka soleniod ini juga cukup
kecil.
Dan yang
mengendalikan kapan solenoid terbuka, itu adalah ECU selaku otak atau processor
utama dari sistem common rail.
D. Cara
perbaikan dan perawatan sistem Common Rail
1.
Jaga
kebersihan filter udara
Air filter adalah
sebuah komponen yang berfungsi menyaring debu dan kotoran yang terbawa oleh
udara pada air induction system. Baik mesin bensin atau diesel, filter udara
harus dijaga kebersihanya. Khusus untuk mesin diesel common rail, debu yang
masuk ke dalam mesin bisa mengakibatkan kerusakan komponen injector. Teknisnya,
ketika debu atau kotoran tersebut ikut terkompresi pada mesin, maka debu itu
bisa menyumbat lubang injector yang super mini. Sehingga menghambat pasokan
bahan bakar ke mesin. Untuk itu, pastikan cek selalu kebersihan filter udara
Mobil anda paling tidak dalam rentang 5.000 KM pemakaian atau lebih cepat bila
medan yang anda lalui merupakan daerah berdebu.
2.
Perhatikan
kualitas bahan bakar
Kualitas bahan
bakar juga menjadi faktor penting dalam sistem bahan bakar common rail. Sistem
common rail berbeda dengan diesel konvensional yang bekerja secara mekanis.
Sistem ini sudah dikendalikan secara elektronik dengan tingkat akurasi yang
tinggi. Sehingga masalah kualitas bahan bakar juga berimbas pada masalah common
rail.
Tiap jenis bahan
bakar khusunya solar memiliki kriteria dan sifat yang berbeda - beda. Pada
diesel konvensional, tidak terlalu sensitif terhadap perbedaan nilai cetane.
Tapi pada sistem common rail tekanan bahan bakar sudah diatur. Nilai cetane
yang tidak sesuai dapat menyebabkan miss fire. Selain cetane number, kandungan
sulfur juga menjadi faktor penting pada sistem ini.
Pastikan pahami
spesifikasi bahan bakar sebelum melakukan pengisian bahan bakar. Hal itu
dikarenakan setiap Mobil memiliki spesifikasi tekanan bahan bakar dan kompresi
berbeda. Sehingga jenis bahan bakar juga berbeda. Bahan bakar seperti Pertamina
Dex atau Shell Diesel menjadi jenis yang tepat untuk mesin diesel common rail.
3.
Lakukan
penggantian fuel filter secara rutin.
Seperti halnya air
filter, fuel filter juga menjadi komponen penyaring. Tapi bukan udara yang
disaring, melainkan bahan bakar.
Kebersihan fuel
filter harus dijaga karena kandungan air dan kotoran yang terbawa oleh aliran
bahan bakar akan menyumbat komponen - komponen sistem common rail. Injector
adalah komponen paling rawan terkena imbas dari masalah ini. Banyak kejadian
Stuck injector yang disebabkan penyaringan bahan bakar yang tidak maksimal.
Untuk menghindari
hal diatas, anda perlu melakukan penggantian fuel filter secara rutin sesuai
jadwal service. Filter ini harus diganti karena bersifat sekali pakai yang
tidak bisa dibersihkan. Penggantian fuel filter umumnya berada dalam rentangan
30.000 - 40.000 KM.
4.
Hindari
penggunaan fuel manipulator
Fuel manipulator
adalah sebuah stand alone ECU atau piggyback yang dirangkai bersama sistem
kontrol common rail yang bertujuan untuk mendongkrak tenaga dan Torsi mesin.
Cara kerja sistem ini dengan memaksakan bahan bakar agar terinjeksi lebih
banyak dari jumlah standar agar pembakaran berlangsung lebih kuat.
Karena bersifat
memaksakan, tentu akan menimbulkan efek samping pada komponen common rail. Jika
untuk keperluan racing atau hobi, bukanlah masalah. Tapi sangat tidak
dianjurkan digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Jadi, jika ingin mesin anda
awet usahakan untuk tidak melakukan instalasi sistem semacam ini.
5.
Jangan
melakukan pembongkaran sistem common rail bila belum ahli.
Perawatan yang
kita lakukan hanya bersifat visual dan tanpa melakukan pembongkaran. Mengapa
tidak dianjurkan untuk membongkar sendiri ? Sistem common rail berbeda dengan
diesel konvensional, dimana ketika semua komponen terpasang dengan tepat maka
mesin akan bekerja.
Pada mesin diesel
common rail anda tidak bisa melakukan pembongkaran walau hanya sebatas
pencabutan socket conector saja. Sokcet itu akan menghubungkan komunikasi data
antara sensor, aktuator dan ECU. Saat komunikasi itu terputus, maka check
engine akan menyala walau socket sudah terpasang kembali. Hal ini dikarenakan
data eror sebelumnya tidak akan terhapus apabila belum ada tindak lanjut. Untuk
menghilangkanya perlu menggunakan scanner khusus.
E. Troubleshooting
yang sering terjadi
2.
Tidak
bisa start (Sulit starter)
Area yang
dicurigai:
·
Starter
·
Relay
starter
·
Water
temp. sensor
3.
Sulit
starter saat mesin dingin
Area yang
dicurigai:
·
Sirkuit
sinyal STA
·
Injektor
·
Saringan
bahan bakar
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
·
Diesel
throttle
4.
Sulit
starter saat mesin panas
Area yang
dicurigai:
·
Sirkuit
sinyal STA
·
Injektor
·
Saringan
bahan bakar
·
Tekanan
kompresi
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
·
Diesel
throttle
5.
Mesin
mati segera setelah start
Area yang
dicurigai:
·
Saringan
bahan bakar
·
Injektor
·
Sirkuit
sumber daya ECU
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
6.
Diesel
throttle Lain-lain (Mesin mati)
Area yang
dicurigai:
·
Sirkuit
sumber daya ECU
·
Injektor
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
·
Diesel
throttle
7.
Idle
pertama yang tidak tepat (Idling buruk)
Area yang
dicurigai:
·
Saringan
bahan bakar
·
Injektor
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
8.
Idle
speed mesin tinggi (Idling buruk)
Area yang
dicurigai:
·
Sirkuit
sinyal A/C
·
Injektor
·
Sirkuit
sinyal STA
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
9.
Idle
speed mesin lebih rendah (Idling buruk)
Area yang
dicurigai:
·
Sirkuit
sinyal A/C
·
Injektor
·
Sirkuit
kontrol EGR
·
Tekanan
kompresi
·
Celah
katup
·
Saluran
bahan bakar (Pengurasan udara)
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
·
Diesel
throttle
10. Idling kasar (Idling buruk)
Area yang
dicurigai:
·
Injektor
·
Saluran
bahan bakar (Pengurasan udara)
·
Sirkuit
kontrol EGR
·
Tekanan
kompresi
·
Celah
katup
·
ECU
mesin
·
Supply
pump
·
Sensor
tekanan bahan bakar
·
Diesel
throttle
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Mitsubishi Forte,
tak lain adalah L200 yang masih digunakan hingga saat ini. Forte memiliki
kapasitas angkut 1 ton, namun tetap mudah dikendarai melalui kombinasi
keandalan yang tangguh, easy-to-drive, dan kapasitas angkut yang impresif.
Mitsubishi Motors
kemudian membangun kendaraan four-wheel-drive (4WD) dengan menambahkan versi
4x4 pada 1980. Model ini yang menjadi pondasi kendaraan 4WD Mitsubishi. Forte kemudian
berganti nama menjadi Triton.
Mitsubishi Triton
merupakan mobil yang menggunakan bahan bakar jenis solar dengan sistem common
rail. Sistem common rail adalah mekanisme penyaluran bahan bakar solar dari
tanki ke dalam ruang bakar secara langsung, dengan bantuan perangkat elektronik
sebagai pengontrol volume bahan bakar yang disuplai. Dengan kata lain, common
rail itu seperti sistem EFI pada mesin diesel.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.autoexpose.org/2017/03/cara-merawat-mesin-diesel-common-rail.html
http://www.otomotifinfo.com/komponen-common-rail.html
https://automotive.uzone.id/sejarah-pikap-mitsubishi-triton-yang-sebentar-lagi-berwajah-pajero-sport
http://sabiqptm.blogspot.com/2014/05/sistem-bahan-bakar-motor-diesel.html

Comments
Post a Comment