ANALISIS KOMPETENSI MAPEL CHASIS OTOMOTI IMPLIKASINYA TERHADAP PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN EXSPOTEORI DENGAN MODEL (PROBLEM BASED LEARNING) KELAS X SMK PIRI 1 YOGYAKARTA STRATEGI PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah tuntunan didalam hidup dan tumbuhnya anak-anak yang bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya serta  memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran hidup kemanusiaan menurut Ki Hadjar Dewantara, (2013:20). dan pada hakikatnya pendidikan merupakan  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 pasal 3 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Proses pembelajaran dikelas hingga saat ini masih juga ditemukan pengajar yang memposisikan peserta didik sebagai objek belajar, bukan sebagai individu yang harus dikembangkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat mematikan potensi peserta didik, dan dalam keadaan tersebut peserta didik hanya mendengarkan pidato guru didepan kelas, sehingga mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi yang diberikan oleh guru.
Pendidikan kejuruan di Indonesia telah beberapa kali berganti nama yang kemudian saat ini disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan SDM yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dapat dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan  potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan  pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan  pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat.
Sebagaimana dikemukakan dalam Permendikbud BAB II No. 21 Tahun 2016. Dalam usaha mencapai Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah ditetapkanuntuk setiapsatuan dan jenjang pendidikan, penguasaan kompetensi lulusan dikelompokkan menjadi Tingkat Kompetensi Pendidikan Dasar dan Tingkat Kompetensi Pendidikan Menengah. Tingkat Kompetensi menunjukkan tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kompetensi lulusan yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Lulusan.Tingkat Kompetensi merupakan kriteria capaian Kompetensi yang bersifat generik yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada setiap jenjang pendidikan dalam rangka pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Tingkat Kompetensi dikembangkan berdasarkan kriteria;
1)      Tingkat perkembangan peserta didik.
2)      Kualifikasi kompetensi Indonesia.
3)      Penguasaan kompetensi yang berjenjang.
Selain itu Tingkat Kompetensi juga memperhatikan tingkat kerumitan/kompleksitas kompetensi, fungsi satuan pendidikan, dan keterpaduan antar jenjang yang relevan. Untuk menjamin keberlanjutan antar jenjang, Tingkat Kompetensi dimulai dari Tingkat Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini. 
Dalam Kompetensi Mata Pelajaran Chassis Otomotif X mecakup Sikap Spritual menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, Sikap Sosial menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli, bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif melalui keteladanan, pemberian nasehat, penguatan, pembiasaan, dan pengkondisian secara berkesinambungan serta menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia, dalam Pengetahuan Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuanfaktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasankemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian pada bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah, dalam keterampilan Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: Efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, solutif. Dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
Dalam pendekatan pembelajaran menurut Nunung Suryani dan Leo Agung (2012:5) pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,  menginsprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pendekatan pembelajaran untuk peserta didik teknik permesinan dengan pendekatan kontekstual menurut Nurhadi (2003) didalam  Nunung Suryani dan Leo Agung (2012:75) pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan dunia nyata siswa.
Dalam strategi pembelajaran menurut Abdul Majid (2016:7) strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafat atau teori pembelajaran tertentu. Sistem strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru, Chassis Otomotif X dengan konsep, Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL), Strategi Pembelajaran Afektif, dan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM).
Menurut Abdul Majid (2013:228). Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pembelajaran yang dipelajari yang mengaitkan materi tersebut terhadap konteks kehidupan sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lainya.
Menurut Nunuk Suryani dan Leo Agung (2012:116). Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata, sehingga perserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Wina Sanjaya (2006:255). Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkanya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.

Dalam  metode pembelajaran guru Chassis Otomotif X menggunakan metode pembelajaran problem based learning, menurut Ridwan Abdullah (2012:127). Problem based learning (PBL) merupakan pembelajaran yang menyampaikannya dilakukan dengan cara menyajikan suatu permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memfasilitasi penyelidikan, dan membuka dialog.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Kompetensi Chassis Otomotif?
2.      Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran Chassis Otomotif?
3.      Bagaimana pembelajaran Chassis Otomotif dengan metode demonstrasi?
4.      Bagaimana strategi pembelajaran Chassis Otomotif, dengan Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning, afektif, dan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah?
5.      Bagaimana langkah-langkah pembelajaran Chassis Otomotif dengan metode pembelajaran project based learning?

C.     Tujuan
1.      Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Kompetensi Chassis Otomotif.
2.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan pembelajaran Kompetensi Chassis Otomotif.
3.      Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran Chassis Otomotif dengan metode demonstrasi.
4.      Untuk mengetahui bagaimana strategi pembelajaran Chassis Otomotif dengan strategi pembelajaran inkuiri dan strategi pembelajaran ekspositori.
5.      Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah Kompetensi Chassis Otomotif dengan metode pembelajaran project based learning.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kompetensi Chassis Otomotif
Kompetensi adalah kemampuan individi/kelompok yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diekspresikan dalam kinerja profesinya sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Kepres No.12 th 2010 tentang KKNI.
Pembelajaran di SMK lebih menekankan pada pembelajaran pada kejuruan, pendidikan menengah kejuruan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Didalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang selanjutnya disebut standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kopetensi minimal untuk mencapai kopetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan adanya setandar isi tersebut maka Dalam rangka pelaksanaan ketentuan pasal 27 ayat (1) peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, perlu menetapkan Peraturan Mentri Pendidikan Nasional tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah di terangkan dalam penetapannyaPermendiknas No.23 Th 2006 tentang Setandar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran di standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.
Pada sekolah menengah kejuruan (SMK) sekolah lebih menekankan dan mendidik anak sesuai dengan kompetensi atau jurusan yang diambil oleh anak didik dan mendidik hingga sekolah bisa meluluskan anak didik yang cerdas, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya.
Untuk mencapai standar kopetensi lulusan proses belajar dan tujuan belajar siswa Chassis Otomotif kususnya pembelajaran pemeliharaan mesin kendaraan ringan, di butuhkan Standar kompetensi mapel untuk dijadikan pedoman antara lain:
1.      Lingkungan dan sumber daya.
2.      Pengembangan dan penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar.
3.      Menunjukkan sikap peduli terhadap lingkungan melalui kegiatan yang berhubungan chassis otomotif.
4.      Menunjukan sikap cermat dan teliti dalam membongkar komponen-komponen transmisi
5.      Menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab sesuai dengan SOP.
6.      Menunjukkan sikap cermat terhadap kesehatan keselamatan kerja (K3) pada saat sedang praktek membongkar komponen transmisi.
7.      Mengetahui cara merawat mesin kendaraan (servis berkala).
8.      Mengetahui cara mengoprasikan alat-alat untuk membongkar transmis.
9.      Mengetahui alat-alat yang digunakan saat membongkar transmis.
Kompetensi chassis otomotif menekankan pada materi dan praktek lapangan dalam pembelajarannya, yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, dan mampu bersaing didalam persaingan global yang semakin berkembang. Lulusan SMK diharapkan mampu bersaing dalam usaha sesui kompetensi yang dimiliki.
B.     Pembelajaran Chassis Otomotif
Sistem pembelajaran praktik Chassis Otomotif Permasalahan yang terjadi di SMK terkait dengan kompetensi siswa yang rendah sehingga kurang bisa diserap di dunia kerja bisa disebabkan oleh kurang optimalnya penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung. Kompetensi yang dimiliki siswamerupakan bagiandari hasil belajar.
Menurut Slameto (2010: 54). Ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah, psikologi dan kelelahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menurut Sudjana (2010: 40) Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah adalahkualitas pengajaran. Sekolahmenjadi faktor penting dalamkeberhasilan belajar siswa, oleh karena itu sekolah, bertanggungjawab untuk menyelenggaran pendidikan yang berkualitas untuk dapat menciptakan kompetensi siswa. Berkaitan dengan sekolah yang berperan dalam menciptakan kualitas pengajaran, Prosserber pendapat (1950: 234). Pendidikan kejuruan harus memenuhi 16 prinsip, dua diantaranya adalah pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukandengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan ditempat kerja, serta pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar-benar diulang-ulang sehingga sesuai seperti yang diperlukan dalam pekerjaan nanti. Prinsip penyelenggaraan pendidikan kejuruan di SMK dijalankan dengan memberikan porsi yang besar dalam pembelajaran praktikum, tetapi pada pelaksanaannya pembelajaran praktikum belum berjalan dengan baik, hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya fasilitas ataupun kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Hal lain yang terjadi adalah pembelajaran teori masih mendominasi dibanding praktik, sehingga kemampuan siswa hanya sebatas memahami dan tidak mampu mengaplikan teori tersebut. Padahal jika pembelajaran praktikum dapat berjalan dengan baik akan meningkatkan kompetensi siswa SMK.
Praktikum merupakan suatu bentuk pembelajaran yang dilakukan di suatu tempat tertentu dimana siswa berperan aktif dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu, sehingga siswa dapat menemukan konsepnya dan memperoleh pengalaman baik dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Pembelajaran praktikum ini sesuai dengan teori belajar behavioristik, yaitu sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaranyang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.Sejalan dengan teori belajar behavioristik, praktikum di SMK dilakukan.
Dengan beberapa cara, praktikum yang dilakukan di sekolah, yang bisa dilakukan di di kelas, laboratorium, dan di unit produksi ataupun teaching factory Prinsip penyelenggaraan pendidikan kejuruan terlihat pula dengan adanya praktek kerja industri (Prakerin). Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan lulusan yang kompeten, siap bekerja dan mandiri sesuai dengan kebutuhan dunia industri.Prakerinmerupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui praktik langsung di dunia kerja. Prakerinini bertujuan agar siswa memiliki tingkat profesional yang dibutuhkan di dunia kerja. Melihat kenyataan yang ada pada pencapaian kompetensi kejuruan siswa Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan  yang masih rendah, maka kemungkinan disebabkan oleh pelaksanaan praktikum yang belum berjalandengan baik,sehingga sekolah harus memperhatikan kualitas pembelajaran praktikum, Tiga landasan teoritis yang mendasari kurikulum berbasis kompetensi yaitu:
1)      Adanya  pergeseran dari pembelajaran kelompok kearah pembelajaran individual. Dalam pembelajaran individual peserta didik mampu belajar sendiri dan tidak lagi tergantung pada orang lain. Untuk itu perlunya disediakan kelas yang fleksibel, sarana maupun waktu yang baik karena tidak menutup kemungkinan peserta didik belajar dengan cara dan waktu yang berbeda sesuai kemampuannya.
2)      Pengembangan  konsep belajar tuntas atau belajar sebagai penguasaan merupakan salah satu falsafah pembelajaran yang tepat, semua siswa dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan baik.
3)      Pendefinisian  kembali terhadap bakat. Hall (1986) menyatakan bahwa setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal jika diberikan waktu yang cukup. Perbedaan antara pesesrta didik yang pandai dengan yang kurang terletak pada masalah waktu. Peserta didik pandai memerlukan waktu yang lebih cepat untuk belajar, sedangkan peserta didik yang kurang memerlukan waktu yang cukup lama untuk belajar.
Ashan (1981) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan  kurikulum berbasis kompetensi, antara lain:
1)      Penetapan kompetensi yang akan dicapai, merupakan pernyataan tujuan yang hendak diperoleh peserta didik, menggambarkan hasil belajar dalam aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap. 
2)      Pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi, adalah upaya untu membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan (membaca, menulis, mendengarkan, dan berkreasi dan mengobservasi sampai terbentuk suatu kompetensi).
3)      Evaluasi, merupakan kegiatan penilaian terhadap pencapaian kompetensi bagi setiap peserta didik.
                   Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi Menyadari bahwa pengembangan pada pembelajaran  merupakan proses yang dinamis, maka penyusunan dan pelaksanaan  didasarkan pada:
1)      Keimanan, nilai, dan budi luhur.
2)      Penguatan integritas nasional.
3)      Keseimbangan antara etika, logika, estetika, dan kinesta.
4)      Kesamaan memperoleh kesempatan.
5)      Abad pengetahuan dan teknologi informasi.
6)      Pengembangan kecakapan hidup.
7)      Belajar sepanjang hayat.
8)      Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperhensif.
9)      Pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Prinsip-prinsip tersebut dikembangkan dan diterapkan dalam rangka melayani dan membantu siswa mengembangkan dirinya secara optimal, baik dalam kaitannya dengan tuntutan studi lanjut, memasuki dunia kerja, maupun belajar sepanjang hayat secara mandiri dalam masyarakat.
Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah guna mencapai tujuan secara optimal.
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)      Setiap modul memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik, bagaimana melakukannya, dan sumber belajar apa yang digunakan.
2)      Memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya, mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh, dan memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
3)      Memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif daan memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi, dan berdiskusi.
4)      Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis.
5)      Memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

C.    Pembelajaran Chassis Otomotif  Dengan Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan salah satu metode yang cukup efektif karena membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiriberdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pembelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau sekedar tiruan Abdul Majid (2013:197)
Menurut Syaiful, (2008:210). metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya.
Menurut Djahiri, (1993). Pembelajaran dengan demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam materi pelajaran yang didemonstrasikan.
Menurut Mhubbin Syaah, (2000:22). Metode dmonstrasi adalah mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui pengajaran yang relevan dengan pokok Bahasa atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Abdul Majid (2013:197). Didalamnya Saiful Sagala (2005). Metode demonstrasi adalah petunjuk tentang proses terjadinya suatu pristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami khfoleh peserta dididk secara nyata.   


D.    Pembelajaran Chassis Otomotif, dengan Contextual Teaching and Learning,  afektif, dan Berbasis Masalah
E.     Pembelajaran Chassis Otomotif dengan metode pembelajaran project based learning









DAFTAR PUSTAKA

Ki Hadjar Dewantara. 2013. Pendidikan I. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Sanjaya, wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: kencana.

Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar evaluasi pendidikan: Aplikasi dan penerapannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Depdikbud. 1994. Kurikulum berbasis kompetensi dalam menunjang kecakapan hidup siswa, Jakarta: Bina aksara.














Comments

Popular Posts