ANALISIS KOMPETENSI MAPEL CHASIS OTOMOTI IMPLIKASINYA TERHADAP PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN EXSPOTEORI DENGAN MODEL (PROBLEM BASED LEARNING) KELAS X SMK PIRI 1 YOGYAKARTA STRATEGI PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan
adalah tuntunan didalam hidup dan tumbuhnya anak-anak yang bertujuan menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya serta
memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran hidup kemanusiaan
menurut Ki Hadjar Dewantara, (2013:20). dan pada hakikatnya pendidikan
merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang
demokratis serta bertanggung jawab menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 pasal
3 tahun 2003,
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Proses pembelajaran dikelas hingga
saat ini masih juga ditemukan pengajar yang memposisikan peserta didik sebagai
objek belajar, bukan sebagai individu yang harus dikembangkan potensi yang
dimilikinya. Hal ini dapat mematikan potensi peserta didik, dan dalam keadaan
tersebut peserta didik hanya mendengarkan pidato guru didepan kelas, sehingga
mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi yang diberikan oleh guru.
Pendidikan
kejuruan di Indonesia telah beberapa kali berganti nama yang kemudian saat ini
disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan SDM yang memiliki kemampuan,
keterampilan, dan keahlian. Dalam Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa
pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik
terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dapat dikatakan pendidikan
kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan
mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan
kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi
dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam
proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan
pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif
dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang
hayat.
Sebagaimana dikemukakan
dalam Permendikbud BAB II No. 21 Tahun 2016. Dalam usaha mencapai Standar
Kompetensi Lulusan sebagaimana telah ditetapkanuntuk setiapsatuan dan jenjang pendidikan,
penguasaan kompetensi lulusan dikelompokkan menjadi Tingkat Kompetensi Pendidikan
Dasar dan Tingkat Kompetensi Pendidikan Menengah. Tingkat Kompetensi menunjukkan
tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kompetensi lulusan yang telah
ditetapkan dalam Standar Kompetensi Lulusan.Tingkat Kompetensi merupakan
kriteria capaian Kompetensi yang bersifat generik yang harus dipenuhi oleh peserta
didik pada setiap jenjang pendidikan dalam rangka pencapaian Standar Kompetensi
Lulusan. Tingkat Kompetensi dikembangkan berdasarkan kriteria;
1) Tingkat
perkembangan peserta didik.
2) Kualifikasi
kompetensi Indonesia.
3) Penguasaan
kompetensi yang berjenjang.
Selain
itu Tingkat Kompetensi juga memperhatikan tingkat kerumitan/kompleksitas
kompetensi, fungsi satuan pendidikan, dan keterpaduan antar jenjang yang
relevan. Untuk menjamin keberlanjutan antar jenjang, Tingkat Kompetensi dimulai
dari Tingkat Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini.
Dalam
Kompetensi Mata Pelajaran Chassis Otomotif
X
mecakup Sikap Spritual menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, Sikap
Sosial menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli, bertanggung
jawab, responsif, dan pro-aktif melalui keteladanan, pemberian nasehat,
penguatan, pembiasaan, dan pengkondisian secara berkesinambungan serta
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia, dalam Pengetahuan
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuanfaktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil,
dan kompleks dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasankemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian pada bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan
masalah, dalam keterampilan Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan
menyaji secara: Efektif,
kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, solutif. Dalam
ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya
di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung.
Dalam
pendekatan pembelajaran menurut Nunung Suryani dan Leo Agung (2012:5)
pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya
mewadahi, menginsprasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pendekatan
pembelajaran untuk peserta didik teknik permesinan dengan pendekatan
kontekstual menurut Nurhadi (2003) didalam Nunung Suryani dan Leo Agung (2012:75)
pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah
konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang
diajarkan dan dunia nyata siswa.
Dalam strategi
pembelajaran menurut Abdul Majid (2016:7) strategi pembelajaran adalah
pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum
dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan
dari pandangan falsafat atau teori pembelajaran tertentu. Sistem strategi
pembelajaran yang digunakan
oleh guru,
Chassis Otomotif X
dengan konsep,
Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL), Strategi Pembelajaran Afektif,
dan Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah
(SPBM).
Menurut
Abdul
Majid (2013:228).
Strategi
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi
pembelajaran kontekstual
merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa
untuk memahami makna materi pembelajaran yang dipelajari yang mengaitkan materi
tersebut terhadap konteks kehidupan sehari-hari sehingga siswa memiliki
pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke
permasalahan lainya.
Menurut
Nunuk Suryani dan Leo Agung
(2012:116).
Strategi
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi
pembelajaran yang menekankan
pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata, sehingga
perserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar
dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut
Wina Sanjaya
(2006:255).
Strategi
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (TCL) adalah srategi
pembelajaran yang menekankan
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkanya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.
Dalam metode pembelajaran guru Chassis Otomotif X
menggunakan metode pembelajaran problem based learning,
menurut Ridwan Abdullah (2012:127). Problem based learning
(PBL) merupakan
pembelajaran yang menyampaikannya dilakukan dengan cara menyajikan suatu
permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memfasilitasi penyelidikan, dan
membuka dialog.
B. Rumusan
masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Kompetensi Chassis Otomotif?
2. Apakah
yang dimaksud dengan pembelajaran Chassis Otomotif?
3. Bagaimana
pembelajaran Chassis Otomotif dengan
metode demonstrasi?
4. Bagaimana
strategi pembelajaran Chassis Otomotif, dengan
Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning, afektif, dan Strategi
Pembelajaran Berbasis
Masalah?
5. Bagaimana
langkah-langkah pembelajaran
Chassis Otomotif dengan
metode pembelajaran project based learning?
C. Tujuan
1. Untuk
memahami apa yang dimaksud dengan Kompetensi Chassis Otomotif.
2. Untuk
mengetahui apakah yang dimaksud dengan pembelajaran Kompetensi Chassis Otomotif.
3. Untuk
mengetahui bagaimana pembelajaran Chassis Otomotif dengan
metode demonstrasi.
4. Untuk
mengetahui bagaimana strategi pembelajaran Chassis Otomotif dengan
strategi pembelajaran inkuiri dan strategi pembelajaran ekspositori.
5. Untuk
mengetahui bagaimana langkah-langkah Kompetensi Chassis Otomotif dengan metode
pembelajaran project based learning.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kompetensi
Chassis Otomotif
Kompetensi
adalah kemampuan individi/kelompok yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang diekspresikan dalam kinerja profesinya sesuai dengan disiplin
ilmu yang dipelajari. Kepres No.12 th 2010 tentang KKNI.
Pembelajaran
di SMK lebih menekankan pada pembelajaran pada kejuruan, pendidikan menengah
kejuruan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
tertentu. Didalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan
menengah yang selanjutnya disebut standar isi mencakup lingkup materi minimal
dan tingkat kopetensi minimal untuk mencapai kopetensi lulusan minimal pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan adanya setandar isi tersebut maka
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan pasal 27 ayat (1) peraturan pemerintah Nomor
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, perlu menetapkan Peraturan
Mentri Pendidikan Nasional tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah di terangkan dalam penetapannyaPermendiknas No.23
Th 2006 tentang Setandar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan
menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta
didik, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran di standar
kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.
Pada sekolah
menengah kejuruan (SMK) sekolah lebih menekankan dan mendidik anak sesuai
dengan kompetensi atau jurusan yang diambil oleh anak didik dan mendidik hingga
sekolah bisa meluluskan anak didik yang cerdas,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
program kejuruannya.
Untuk
mencapai standar kopetensi lulusan proses belajar dan tujuan belajar siswa Chassis Otomotif kususnya
pembelajaran pemeliharaan mesin kendaraan ringan, di butuhkan Standar
kompetensi mapel untuk dijadikan pedoman antara lain:
1.
Lingkungan dan sumber
daya.
2.
Pengembangan dan
penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar.
3.
Menunjukkan sikap peduli
terhadap lingkungan melalui kegiatan yang berhubungan chassis otomotif.
4.
Menunjukan sikap cermat
dan teliti dalam membongkar
komponen-komponen transmisi
5.
Menunjukkan sikap
disiplin dan tanggung jawab sesuai dengan SOP.
6.
Menunjukkan sikap cermat
terhadap kesehatan
keselamatan kerja (K3) pada saat
sedang praktek membongkar komponen transmisi.
7.
Mengetahui
cara merawat mesin kendaraan (servis
berkala).
8.
Mengetahui cara mengoprasikan
alat-alat untuk membongkar transmis.
9.
Mengetahui alat-alat yang digunakan
saat membongkar transmis.
Kompetensi chassis otomotif menekankan pada materi dan praktek lapangan dalam
pembelajarannya, yang bertujuan untuk
menghasilkan lulusan yang berkualitas, dan mampu
bersaing didalam persaingan
global yang semakin berkembang. Lulusan SMK diharapkan mampu
bersaing dalam usaha sesui kompetensi yang dimiliki.
B. Pembelajaran Chassis
Otomotif
Sistem pembelajaran praktik Chassis Otomotif Permasalahan yang terjadi di SMK terkait dengan
kompetensi siswa yang rendah sehingga kurang bisa diserap di dunia kerja bisa
disebabkan oleh kurang optimalnya penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung.
Kompetensi yang dimiliki siswamerupakan bagiandari hasil belajar.
Menurut Slameto (2010: 54). Ada dua
faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal, faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah, psikologi dan
kelelahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, sekolah,
dan masyarakat.
Menurut Sudjana (2010: 40) Salah
satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah
adalahkualitas pengajaran. Sekolahmenjadi faktor penting dalamkeberhasilan
belajar siswa, oleh karena itu sekolah, bertanggungjawab untuk menyelenggaran
pendidikan yang berkualitas untuk dapat menciptakan kompetensi siswa.
Berkaitan
dengan sekolah yang berperan dalam menciptakan kualitas pengajaran, Prosserber
pendapat (1950: 234). Pendidikan
kejuruan harus memenuhi 16 prinsip, dua diantaranya adalah pendidikan kejuruan
yang efektif hanya dapat diberikan dimana
tugas-tugas latihan dilakukandengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang
ditetapkan ditempat kerja, serta pendidikan kejuruan akan efektif jika
pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang
benar-benar diulang-ulang sehingga sesuai seperti yang diperlukan dalam
pekerjaan nanti. Prinsip
penyelenggaraan pendidikan kejuruan di SMK dijalankan dengan memberikan porsi
yang besar dalam pembelajaran praktikum, tetapi pada pelaksanaannya
pembelajaran praktikum belum berjalan dengan baik, hal ini bisa
disebabkan
oleh kurangnya fasilitas ataupun kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
Hal lain yang terjadi adalah pembelajaran teori masih mendominasi dibanding
praktik, sehingga kemampuan siswa hanya sebatas memahami dan tidak mampu
mengaplikan teori tersebut. Padahal jika pembelajaran praktikum dapat berjalan
dengan baik akan meningkatkan kompetensi siswa SMK.
Praktikum merupakan suatu bentuk
pembelajaran yang dilakukan di suatu tempat tertentu dimana siswa berperan
aktif dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu, sehingga siswa dapat
menemukan konsepnya dan memperoleh pengalaman baik dalam bidang kognitif,
afektif dan psikomotor. Pembelajaran praktikum ini sesuai dengan teori belajar
behavioristik, yaitu sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaranyang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar.Sejalan dengan teori belajar behavioristik,
praktikum di SMK dilakukan.
Dengan beberapa cara, praktikum yang
dilakukan di sekolah, yang bisa dilakukan di di kelas, laboratorium, dan di
unit produksi ataupun teaching factory Prinsip penyelenggaraan pendidikan
kejuruan terlihat pula dengan adanya praktek kerja industri (Prakerin). Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan lulusan yang kompeten, siap
bekerja dan mandiri sesuai dengan kebutuhan dunia industri.Prakerinmerupakan
bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang
memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah
dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui praktik langsung di
dunia kerja. Prakerinini bertujuan agar siswa memiliki tingkat profesional yang
dibutuhkan di dunia kerja. Melihat
kenyataan yang ada pada pencapaian kompetensi kejuruan siswa Kompetensi
Keahlian Teknik Kendaraan Ringan yang
masih rendah, maka kemungkinan disebabkan oleh pelaksanaan praktikum yang belum
berjalandengan baik,sehingga sekolah harus memperhatikan kualitas pembelajaran praktikum,
Tiga landasan teoritis yang mendasari kurikulum berbasis kompetensi yaitu:
1)
Adanya pergeseran dari pembelajaran
kelompok kearah pembelajaran individual. Dalam pembelajaran individual peserta
didik mampu belajar sendiri dan tidak lagi tergantung pada orang lain. Untuk
itu perlunya disediakan kelas yang fleksibel, sarana maupun waktu yang baik
karena tidak menutup kemungkinan peserta didik belajar dengan cara dan waktu
yang berbeda sesuai kemampuannya.
2)
Pengembangan konsep belajar tuntas atau belajar
sebagai penguasaan merupakan salah satu falsafah pembelajaran yang tepat, semua
siswa dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan baik.
3)
Pendefinisian kembali terhadap bakat. Hall (1986)
menyatakan bahwa setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara
optimal jika diberikan waktu yang cukup. Perbedaan antara pesesrta didik yang
pandai dengan yang kurang terletak pada masalah waktu. Peserta didik pandai
memerlukan waktu yang lebih cepat untuk belajar, sedangkan peserta didik yang
kurang memerlukan waktu yang cukup lama untuk belajar.
Ashan (1981)
mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, antara lain:
1)
Penetapan kompetensi yang akan dicapai, merupakan pernyataan
tujuan yang hendak diperoleh peserta didik, menggambarkan hasil belajar dalam
aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap.
2)
Pengembangan strategi untuk mencapai
kompetensi, adalah upaya untu membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan
(membaca, menulis, mendengarkan, dan berkreasi dan mengobservasi sampai
terbentuk suatu kompetensi).
3)
Evaluasi, merupakan kegiatan
penilaian terhadap pencapaian kompetensi bagi setiap peserta didik.
Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi Menyadari bahwa pengembangan pada pembelajaran merupakan proses yang dinamis, maka
penyusunan dan pelaksanaan didasarkan
pada:
1) Keimanan,
nilai, dan budi luhur.
2)
Penguatan integritas nasional.
3)
Keseimbangan antara etika, logika,
estetika, dan kinesta.
4)
Kesamaan memperoleh kesempatan.
5)
Abad pengetahuan dan teknologi
informasi.
6)
Pengembangan kecakapan hidup.
7)
Belajar sepanjang hayat.
8)
Berpusat pada anak dengan penilaian
yang berkelanjutan dan komperhensif.
9)
Pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Prinsip-prinsip
tersebut dikembangkan dan diterapkan dalam rangka melayani dan membantu siswa
mengembangkan dirinya secara optimal, baik dalam kaitannya dengan tuntutan
studi lanjut, memasuki dunia kerja, maupun belajar sepanjang hayat secara
mandiri dalam masyarakat.
Tujuan utama
sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
di sekolah guna mencapai tujuan secara optimal.
Pembelajaran
dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Setiap modul
memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus
dilakukan oleh seorang peserta didik, bagaimana melakukannya, dan sumber
belajar apa yang digunakan.
2) Memungkinkan
peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya, mengukur
kemajuan belajar yang telah diperoleh, dan memfokuskan peserta didik pada
tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
3) Memungkinkan
peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif daan memberikan
kesempatan untuk bermain peran (role
playing), simulasi, dan berdiskusi.
4) Materi
pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis.
5) Memiliki
mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik terutama untuk
memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.
C.
Pembelajaran
Chassis Otomotif
Dengan Metode
Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan salah satu metode yang
cukup efektif karena membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha
sendiriberdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan
metode penyajian pembelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada
siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau
sekedar tiruan Abdul Majid (2013:197)
Menurut Syaiful, (2008:210). metode
demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau
benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui
dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya.
Menurut Djahiri, (1993). Pembelajaran dengan demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar
siswa dalam materi pelajaran yang didemonstrasikan.
Menurut Mhubbin Syaah, (2000:22). Metode dmonstrasi adalah mengajar
dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu
kegiatan, baik secara langsung maupun melalui pengajaran yang relevan dengan
pokok Bahasa atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Abdul Majid (2013:197). Didalamnya Saiful Sagala (2005). Metode
demonstrasi adalah petunjuk tentang proses terjadinya suatu pristiwa atau benda
sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan
dipahami khfoleh peserta dididk secara nyata.
D. Pembelajaran Chassis
Otomotif, dengan
Contextual Teaching and Learning, afektif, dan
Berbasis
Masalah
E. Pembelajaran Chassis
Otomotif dengan metode pembelajaran project based
learning
DAFTAR PUSTAKA
Ki Hadjar Dewantara. 2013. Pendidikan I. Yogyakarta: Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.
Sanjaya, wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta:
kencana.
Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar evaluasi
pendidikan: Aplikasi dan penerapannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdikbud. 1994. Kurikulum
berbasis kompetensi dalam menunjang kecakapan hidup siswa, Jakarta: Bina aksara.
https://fairuzelsaid.wordpress.com/2010/08/28/pendidikan-konsep-scl-student-centered-learning/ (diakses hari senin tanggal 19 maret, pukul 05:29)
http://strategipembelajarangurusekolahdasar.blogspot.com/2013/06/prinsip-dan-indikator-pendekatan-cbsa.html (diakses hari senin tanggal 19 maret, pukul 05:40)


Comments
Post a Comment